Tunggulah tunggu
Mohon tunggulah aku
Janji, iya janji
Untuk berada di sisimu
Karena hanya kamu sajalah,
Cuma kamu yang ingin kudampingi
Tak peduli apa kata mereka
Kita pantas satu sama lain
Dan itu sebab hati yang sama rendah,
yang jatuh di sebelah hatimu.
Aku akan menyusul,
Dengan satu dan lain cara
Melewati satu dan lain jalan
Tak peduli meski tersendat di tanjakan,
Atau tersandung di turunan
Belok ke kanan atau menikung ke kiri
Berlari lalu tertatih
Aku akan menemani,
Akan selalu di sampingmu
Cepat atau lambat
A: Kerang, kerang apa yang ilmiah?
B: Moluska? Pinctada maxima? Crassostrea gigas? Perna viridis?
A: Itu sih nama latin bermacam-macam tiram dan kerang. Bukan itu. Tapi, kerang…ka berpikir di karya ilmiah.
XD XD XD
A: Monyet, monyet apa yang bikin KZL?
B: Monyet suka ambil barang orang?
A: Bukan. Mo…nyetop angkot tapi sopirnya malah tancap gas.
XD XD XD
A: Rayap, rayap apa yang enak?
B: Walah, mana ada. Memangnya kamu pernah makan rayap?
A: Sudah, jawab saja.
B: Rayap bakar? Rayap asam manis?
A: Rayapan bubur ayam, rayapan roti lapis, rayapan sego pecel
B: Itu sarapaaaan.
XD XD XD
A: Laron, laron apa yang enak?
B: Gila ya, mana ada laron enak?
A: Coba tebak saja dulu.
B: Laron goreng? Laron bumbu kecap?
A: Larontong sayur, larontong sate, larontong cap go meh.
B: Itu lontoooong.
XD XD XD
A: Semut, semut apa yang bikin baper?
B: Semut keinjek cewek baper.
A: Bisa jadi, tapi bukan itu maksud gue.
B: Apalah?
A: Semut-dah itu dia bilang cinta tapi ternyata cuma PHP.
B: Move oooooon, Cyin!
XD XD XD
A: Kuda, kuda apa yang capek dan sakit?
B: Kuda lari dari Sumbawa ke Warsawa.
A: Yaaa, itu capek juga sih. Tapi bukan.
B: Apa deh?
A: Kuda…ki gunung sambil ngesot.
B: Sadis.
😮 😐 😮
A: Kebo, kebo apa yang mematikan?
B: Kebo ngamuk di rumah loe.
A: Bisaaa, tapi bukan sih.
B: Apa dong?
A: Kebo…kebocoran gas di Perusahaan Gas Negara.
B: Edan.
😮 😮 😮
A: Kebo, kebo apa yang nilai rapornya jelek semua dan mengkhawatirkan masyarakat?
B: Kebo… kebocoran kunci jawaban ujian.
A: Kalau itu sih malah bikin nilai rapor bagus.
B: Oh iya. Lalu kebo apa?
A: Kebo…kebodohan massal.
B: Hadeuh.
😮 😮 😮
A: Kera, kera apa yang kedinginan basah kuyup?
B: Ya kera kehujanan laaaah.
A: Memang sih, tapi bukan itu maksud gue.
B: Apa dong?
A: Kera…mas tengah malam.
B: Ngapain juga keramas tengah malam.
A: Heuheu.
XD XD XD
A: Kera, kera apa yang nasionalis?
B: Kera ikut upacara bendera?
A: Bukan.
B: Kera ikut bertempur melawan penjajah?
A: Bukan juga.
B: Apaan dong?
A: Kera…kyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Ayo main tebak-tebakan yang rada-rada…
Rada absurd maksudnya.
XD XD XD
A: Ikan, ikan apa yang tebal?
B: Tahu, tahu. Ikan… i…kan-tong mata
A: Iyak. Kayak kantong mata loe tuh, tebel. Begadang mulu sih, loe.
XD XD XD
Cowok: Beruang, beruang apa yang romantis?
Cewek: Iih, apa?
Cowok: beruang…nang-ruangnang ke hatimu.
Cewek: Aiiiih…
😉 😉 😉
Cowok: Beruang, beruang apa yang serius?
Cewek: Apa, ya?
Cowok: Beruang-kat ke rumahmu buat melamar.
Cewek: Aiih…
😉 😉 😉
Cowok: Beruang, beruang apa yang berbahaya sekaligus serius tapi romantis?
Cewek: Hah, macam apa pula itu?
Cowok: beruang-kat ke medan perang yang lokasinya di rumahmu menghadap ayahmu buat melamar.
Cewek: Dikata ayahku galak…tapi iya juga sih.
😉 😉 😉
A: Loe tahu ngga, kecoa, kecoa apa yang bikin baper?
B: Kecoa terbang nemplok di jidat?
A: Itu sih kecoa bikin il-feel.
B: Apa dong kecoa yang bikin baper?
A: Kecoaaaaaa….li kamu, cuma sama kamu…
B: Haduh, itu sih lagunya Kotak. Malah nyanyi-nyanyi pulak…
XD XD XD
A: Katak, katak apa yang baper?
B: Apa sih?
A: Katak…an aku mencintaimu walau aku sekarang harus ke luar negeri dan tidak bisa pulang selama empat tahun penuh.
B: Berangkat sana!
XD XD XD
A: Kodok, kodok apa yang berbahaya?
B: Apa ya?
A: Kodok…kodoknya terbuka di negara musuh waktu bekerja sebagai mata-mata rahasia.
B: Itu kedooook.
XD XD XD
A: Anjing, anjing apa yang meresahkan di masyarakat?
B: Tauk.
A: Keanjingan sosial.
B: Ih?
A: Kesenjangan sosial, maksudnya.
B: Hih. Jayus, loe.
XD XD XD
A: Anjing, anjing apa yang dikerubuti banyak orang waktu liburan?
B: Anjing bulldog?
A: Bukan.
B: Anjing chihuahua?
A: Bukan.
B: Anjing herder, spaniel, terrier, pudel? Apa dong, nyerah.
B: Anjingan Taman Mini Indonesia Indah.
A: Itu anjungan, Anj*ay.
XD XD XD
A: Anjing, anjing apa yang bikin bangkrut?
B: Apaan?
A: Keranjingan taruhan bola tapi kalah terus.
B: Pengalaman pribadi loe banget ya.
A: Anj*s loe.
Serombongan pria dan segelintir wanita tampak keluar dari masjid terdekat di luar area perburuan. Lantas kualihkan mata ke dalam arena dengan cepat. Satu per satu kupandangi saingan di sekeliling. Mereka balas menatap. Kulihat kilauan buas di mata mereka. Sekilas saja, tapi bahkan di dalam keremangan subuh, tampak jelas di bawah penerangan yang seadanya di peron stasiun tanpa atap dan bangku ini.
Kami berdiri berjajar di belakang garis yang telah ditentukan. Barisan kami tidak rapi memang, karena ini bukan pertandingan resmi. Tak ada wasit atau juri yang mengatur, menilai, dan menengahi. Namun begitu, bisa dibilang tertib aturan. Kami tidak melebihi batas yang ditetapkan, demi diri kami sendiri.
Ketika buruan kami berada di jarak pandang, kuamati keberingasan kian mencekam dan kurasa pula menguar begitu jelas di udara.
Kami sadar aura berburu membuat diri sendiri tidak bisa bernapas, hingga udara terasa kian mencekik.
Tapi, aku tidak akan kalah. Tidak. Meski aku tahu benar, tekad kuat bergema di hati masing-masing orang di sekitarku. Aku bisa mendengarnya dengan jelas di antara deru berat napas: kami membulatkan hati untuk tidak saling mengalah.
Tidak ada rasa malu yang menghalangi. Kami sama-sama pemburu yang berjuang mendapatkan target hingga titik penghabisan di subuh ini.
Fajar belum lagi merekah, tapi kompetisi memanas. Tanpa harus menghangatkan tubuh pun, hawa dingin hanya perlu dikibas perlahan agar tidak terasa menusuk.
Buruan sudah mendekat, dan setiap sentimeter saraf bersiaga. Siap membetot otot untuk berebut.
Diiringi siulan peluit yang mengoyak udara, kami berlari dan saling mendesak. Masing-masing dengan misi untuk harus berhasil di perburuan ini.
Tak ingat lagi detail kelanjutannya, yang kutahu, aku sudah duduk dengan nyaman di dalam KRL subuh ini bersama semua pemburu kompetitor. Tidak ada yang terluka, walau tadi saling dorong. Kami toh juga menyisakan beberapa tempat duduk kosong untuk para pemburu yang menanti di stasiun berikutnya.
~Bukan KejadianSebenarnya, Hanya Terinspirasi dariKisah Nyata~
Tersebutlah seseorang yang sudah terbiasa mengumpat dan memaki, bukan hanya ketika bercanda di dalam suasana santai namun juga di saat situasi panas—dan konon membuat jenggot orang lain sampai kebakaran. Tak peduli siapa lawan bicaranya dan di mana pun berada, saking lumrahnya melontarkan makian, ia merasa bahwa orang lain sudah mengetahui kebiasaannya dan ngarep orang lainlah yang memaklumi.
Supaya cerita ini ada plot, sebut saja sang pelakon adalah seorang pria bernama X yang bekerja di sebuah perusahaan sebagai juru antar alias kurir, atau yang kerennya sering disebut messenger, semacam job desc-nya Mas Hermes zaman Yunani dulu kala sebagai juru kirim pesan, minus kemampuan terbang. Tentu saja layaknya seorang juru antar, ia sering berinteraksi dengan rekan di kantor tersebut, juga klien perusahaannya.
Cowok X: “Hei, Kuny*uk.”
Cowok Y: “Yo. Ada apa, Anj*ng.”
Cowok X: “Oi, ke sini lu, Bab*i”
Cowok A: “Eeeh, ada lu, Bang. Gimana kabar, Bang?”
Cowok Z: “Rotinya enak ‘kan?”
Cowok X: “Enak biji mata lu, Bangs*at.”
Cowok Z: “Buktinya lu habisin juga tuh roti.”
Cowok X: “Laper, ha ha ha” (sambil comot satu potong roti lagi)
Cewek B (dengan lembut): “Tugas lo ‘kan nganterin dokumen dan paket rutin, tapi jangan lupa duluin yang urgent, ya.”
Cowok X (mendelik): “Bac*ot lu.”
Cewek B: “Ih, kasar lo.”
Cowok X: “Apaan lu, Kutu Kupr*et.”
Cewek C: “Ngomong apa lo?”
Cewek D (dengan lembut): “Yang ini tolong segera diantar ya.”
Cowok X (nada tinggi): “Lu aja yang nganter, Mony*et”
Cewek D (dalam hati sambil pengen nangis: astaga. Tapi kemudian sanggup menguasai diri) : “Penting. Tolong disegerakan sebelum jam 11, ya.”
Cewek E (dengan perlahan): “Ini urgent, didahulukan ya.”
Cowok X (mendelik sambil menunjuk-nunjuk): “Awas aja ya lu. Kampr*et.”
Cewek E: “Omongan kasar jangan diumbar sembarangan ke mana-mana. Siapa tahu orang yang loe maki-maki ternyata pernah punya trauma dimaki orang lain.”
Cowok X: “Halah. Lu aja yang baper.”
Cowok X ke Cewek F: “Dasar ber*uk”
Cewek G (atasan, yang kebetulan mendengar): “Aduh, ini di kantor ya, bukan di jalanan. Bicaranya dijaga.”
Cowok X: “Yang biasa ngomong kasar kita-kita semua, dasar Baj*ingan, kenapa gue doang yang kena melulu ya. ”
Cowok Y: “Gue ngomong kayak begitu ‘kan ke kita-kita aja, cowok-cowok doang, ngga ke cewek-cewek.”
Cowok X: “Gue melulu yang salah, padahal lu-lu juga sering ngomong kasar gitu juga.” *diulangi* #bruh
Cowok Y: “Gue sih ngomong kayak gitu cuma ke kita-kita yang cowok yang memang biasa sama omongan kasar, ke cewek sih ngga.” *diulangi*
Mengumpat bisa menjadi kebiasaan yang membuat pelakunya merasa terlalu terbiasa hingga ia tidak memerhatikan tempat, situasi, dan suasana hati di sekitarnya. Bila dilontarkan pada saat bercanda di situasi yang selow, orang lain juga akan maklum, terutama yang sendirinya juga memang sudah terbiasa untuk memaki. Tapi bila dilontarkan sembarangan tanpa memandang lawan bicara, tempat, dan suasana, bisa jadi akan sedikit mengganggu ketenteraman umum yang sudah adem ayem loh jinawi.
Tidak semua orang bisa maklum terhadap umpatan dan pelakunya, apalagi yang tidak terbiasa—terutama yang tidak dididik dan tidak dibesarkan diiringi kata makian, malahan diharapkan untuk tidak melontarkan satu patah kata pun makian/umpatan—atau kalau baru pertama kali bertemu. Lha ya iyalah, kebangetan amat. Baru saja bertemu, kok sudah disuguhi umpatan, di mana sopan santunnya. Bahkan di antara sesama cowok yang konon kebiasaan maki-memaki sudah mengakar, kalau memang seorang pria tidak dibiasakan untuk mengumpat—bukan pengecut, hanya memang dididik untuk tidak memaki-maki—bisa saja akan merasa risih ketika dihadapkan serentetan salam penuh makian dari pria lain.
Harapan dan ajakan agar makian serta umpatan—terutama yang terkait dengan nama-nama binatang—tidak terlalu murah diumbar, pun disuarakan dengan woles oleh para pembuat video Youtube diprakarsai Cameo Project yang lantas menantang para Youtuber lain untuk membuat video sendiri mengenai Cameo Project #HeyAnjing